INDO Ekspres, Jakarta – Pengamat Politik Boni Hargens menilai kisruh antara menteri di tubuh kabinet merupakan bagian dari dinamika revolusi mental. Namun, Boni memastikan bahwa Presiden Joko Widodo tidak terlibat sama sekali dalam kisruh tersebut meski harus memikul tanggung jawab atas kisruh tersebut.
“Namun, jauh ke dalam, kita tahu kisruh itu mutlak tidak berkaitan dengan kepemimpinan Jokowi. Keributan antarmenteri adalah bagian dari dinamika revolusi mental di tubuh kabinet,” ujar Boni melalui keterangan pers, Selasa (8/3).
Dia menilai ada menteri yang berlari begitu cepat mengikuti irama presidennya, sementara ada menteri yang enggan berlari karena kakinya terbelenggu oleh ke pentingan terselubung. Menurutnya, kabinet adalah sistem terbatas yang dibentuk untuk membantu Presiden dalam mewujudkan visi dan misi kepemimpinannya.
“Maka, anggota kabinet harus seiya sekata dengan Presidennya. Soliditas dan sinergitas adalah prasyarat dasar yang harus dipegang para menteri dalam bekerja,” ungkapnya.
Dia juga mengatakan koordinasi ada di tangan Presiden, namun tidak boleh ada pihak lain yang merampas hak prerogatif presiden dalam konteks ini. Para menteri, katanya mesti sadar, dalam Nawacita terkandung banyak harapan termasuk menjadi Indonesia yang hebat,
“Nawacita seharusnya menjadi semangat bersama. Nawacita bukan saja soal cita-cita pembangunan Jokowi yang secara prinsipil merupakan bentuk operasional dari Trisakti Soekarno, tetapi Nawacita adalah roh perubahan yang mestinya menjelma menjadi roh bersama yang menyatukan seluruh kelompok, gagasan, dan kepentingan demi terwujudnya pembangunan untuk semua,” jelas Boni.
Karena itu, dia mendorong para pembantu Presiden mesti menyadari hal tersebut. Menurutnya, berbeda dan bertengkar itu biasa, tetapi jangan bertengkar di jalan. “Konflik mesti diselesaikan di internal kabinet sebagai bentuk respek terhadap Presiden dan dukungan terhadap stabilitas pemerintahan. Kalau tidak, Nawacita bakal mati justru di tangan para pembantu Presiden sendiri,” imbuh dia.
Lebih lanjut, dia mengatakan sudah setahun lebih pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla berjalan dan melewati badai dan batu karang. Tantangan politik yang serius dari parlemen dan dari internal partai pendukung sempat menyurutkan optimisme, namun pada akhirnya terselesaikan juga.
“Kunci keberhasilan adalah sosok Jokowi sendiri. Jokowi adalah pemimpin yang cerdas dan santun. Lebih dari itu, ia adalah pekerja. Gerakan yang cepat berkombinasi dengan semangat populisme yang membumi menjadikan Jokowi sebagai magnet tunggal dari pemerintahan ini,” tandas dia.
Menurut Boni, Jokowi berhasil melemahkan serangan politik dari lawan dan pada saat yang sama mampu merebut hati rakyat. Namun, keberhasilan Jokowi mesti didukung oleh sistem secara keseluruhan.
“Lingkaran dalam atau inner cycle yang mencakup Wakil Presiden dan para menteri, mesti seirama dan berlari dengan kecepatan yang sama,” pungkasnya. (bst)
