INDO Ekspres, Jakarta - Kalangan pengusaha mendukung ide holding perusahaan BUMN menjadi enam sektor. Selain menambah kapitalisasi induk maupun anak usaha, nantinya perusahaan makin kompetitif dan profitable karena pendapatan bisa naik dan beban operasional turun.
Partner Corporate Finance & Transaction Support RSM Indonesia Wiljadi mengatakan, di era kompetisi MEA ini kebutuhan holdingisasi menjadi mendesak apalagi negara tetangga sudah lebih dulu melakukannya dan terbukti sukses, sebut saja Singapura dengan grup Temasek-nya, Malaysia dengan Khazanah, dan Tiongkok dengan CIC.
"Gunakan momentum ini, jalankan holding BUMN. Head-nya (Jokowi) sudah jalan. Tapi perlu diperhatikan implementasinya, bagaimana UU. Tapi, menurut kami ada tiga hal utama yang harus jadi concern. CEO BUMN bisa mengambil keputusan tanpa intervensi, pendelegasian yang jelas dari induk ke anak perusahaan, serta model pemerintahan holding termasuk kedisiplinan dan profesioanlisme,” kata dia, di Jakarta, Rabu (2/3).
Menurut dia, saat ini beberapa sektor seperti maritim, turisme dan perbankan Indonesia sangat kompetitif, bahkan appetite di sektor perbankan sangat tinggi dimana banyak kliennya dari Thailand, Filipina dan Malaysia yang tengah windows shopping menjajaki bank lokal untuk diakuisisi. Untuk itu pemerintah mesti bergerak cepat.
"Apalagi, pressure-nya sekarang sudah tinggi sekali. Eranya persaingan, mereka (negara lain) lihat Indonesia negara yang populated. Fokus enam holding BUMN dulu saja dijalankan, misalnya perbankan kita ada 120 bank lebih tapi masih kalah dengan DBS-nya Singapura. Kita bikin saja satu holding BUMN perbankan misal Danareksa/Bahana/PPA atau bahkan perusahaan baru bila perlu,” papar dia.
Wiljadi memperkirakan, holding BUMN bakal mengurangi brand yang sudah dikembangkan BUMN selama ini. Namun demikian, kata dia, masih lebih banyak sisi positifnya. Misalnya, valuasi saham akan meningkat jika di-IPO kan, kemudian juga sharing beban operasional seperti mesin ATM di sektor perbankan.
"Pada dasarnya holdingisasi 'kan mengkapitalisasi aset anak usaha, yang sudah besar nilainya akan semakin besar baik anak maupun induk usaha. Lebih menarik lagi bila di IPO kan induknya sehingga bisa dimonitori nilainya pasca-IPO di satu sisi fixed asset digabung satu, sehingga biaya operasional menurun/efisien, laba naik begitu juga setoran pajak,” kata dia.
Meski jenis holding BUMN Indonesia lebih ke arah operasional bukan investasi seperti Singapura, namun Singapura patut dicontoh. Masing-masing CEO subholding (sektor) bisa melapor ke Menteri BUMN untuk selanjutnya dilaporkan ke Presiden. “Temasek sejak 1974 sudah mengakuisisi lebih dari 36 perusahaan termasuk Matahari Putra Prima dan Alibaba Group, kita bisa belajar dari sana,” kata dia.
Target 2 Induk
Menteri BUMN Rini M Soemarno menargetkan tahun ini bisa dibentuk dua induk usaha BUMN di sektor konstruksi jalan tol dan pertambangan. Dia menilai holding jalan tol ini sangat mendesak, mengingat banyak program yang sedang dijalankan pemerintah saat ini, seperti pembangunan jalan tol Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. “Yang paling utama terus terang memang sektor jalan tol. Karena konstruksi kan juga banyak sekali karya karya. Kami konsentrasikan lebih dulu ke yang membangun jalan tol," ujar Rini.
Dalam Roadmap BUMN, di sektor jalan tol ada empat BUMN yakni PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Indra Karya (Persero), dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Jasa Marga akan disiapkan menjadi induk usahanya. Sementara di sektor pertambangan ada PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, PT Timah (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, dan PT Inalum (Persero) sebagai induk usaha. (BS)
