Inilah Pertimbangan Ahok, Sebelum Putuskan Maju Lewat Jalur Independen


INDO Ekspres, Jakarta- Basuki Tjahaja Purnama memastikan tidak akan menunggu PDI Perjuangan (PDIP) untuk memberikan dukungan kepadanya sebagai Calon Gubernur (Cagub) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI 2017 mendatang. Hal tersebut dikarenakan pendukung Basuki yang tergabung dalam Teman Ahok tidak mau menunggu lagi karena mereka harus bekerja dua kali untuk mengumpulkan KTP mengingat Basuki belum menentukan calon wakilnya.

"PDIP maunya mengusung, bukan mendukung. Jadi bukan saya mendesak partai lho, ini Teman Ahok yang mendesak bahwa mereka butuh cepat. Makanya saya terus bargaining dengan mereka sampai mundur seminggu. Ini tanggal 7 sudah seminggu, makanya mereka datang (menemui Basuki semalam di rumahnya)," ujar Basuki di Balai Kota, Senin (7/3).

Ia mengatakan, Teman Ahok sudah menyerahkan sepenuhnya kepada Basuki apakah dirinya akan menggunakan KTP yang telah dikumpulkan mereka atau tidak. Mereka juga memastikan tidak bisa menerima apabila Djarot yang menjadi wakilnya karena tidak ada surat dari PDIP yang menyatakan partai tersebut mendukung Basuki.

"Saya katakan, susah lho mengisi nama wakil di formulir dari KTP yang terkumpul begitu banyak, tapi mereka yakin katanya. Ya, saya tidak mau anak-anak muda ini kecewa. Sudah saya katakan kalau anak-anak semangat ya, saya ikut independen, tapi perlu mereka tahu saya juga berkorban ini," katanya.

Jika Teman Ahok tidak bisa mengumpulkan KTP sebagaimana mestinya, menurutnya, justru hal tersebutlah yang diharapkan oleh para lawannya karena mereka berharap tidak ada partai juga yang mencalonkannya dan independen pun tidak bisa maju. Ia pun meminta Teman Ahok juga bisa mengerti posisi dia yang sebenarnya. (bst)

"Saya tidak apa-apa demi kepercayaan kalian tak runtuh dan demi PNS yang dipercaya, saya siap. Kalau memang nasib saya tidak bisa maju lagi, ya sudah," katanya.

Ia menjelaskan, pendaftaran calon gubernur dan wakilnya kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) dimulai sekitar Juli atau Agustus. Apabila ia akan melenggang bersama Heru Budi Hartono yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI, maka Heru pun bulan Juni nanti harus mundur dari jabatannya tersebut sekaligus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ia juga meyakini PDIP tidak akan merestui Djarot untuk maju bersamanya jika ia sudah memastikan untuk independen bersama Heru. Pasalnya, Teman Ahok juga sudah menyampaikan padanya, jika ia tidak cepat memastikan wakil, maka mereka tidak sanggup dengan waktu yang terbatas untuk memasukkan nama dan menanyakan kembali persetujuan warga yang sudah mengumpulkan KTP dengan calon wakil yang digandeng Basuki.

"Mereka (Teman Ahok) sudah menghitung, bahwa mesti kerja dari bulan Maret-April-Mei-Juni-Juli, empat bulan saja sudah susah katanya. Menurut mereka ini sudah susah, kalau (tunggu) PDIP terus mundur, April-Mei-Juni. Saya mengerti juga PDIP ada proses, tapi mereka bilang, kami tidak bisa penuhi KTP karena waktunya," katanya.

Meskipun Basuki mengakui sebetulnya PDIP sudah menyetujui jika ia harus maju bersama Djarot. Apalagi, katanya, PDIP begitu mengutamakan petahana yang prestasinya sudah terlihat. Termasuk mereka juga memperhatikan dari survei-survei yang dilakukan. Namun masalahnya, katanya, PDIP saat ini ingin mengusung calon gubernur sendiri mengingat mereka merupakan partai besar yang di DKI saja mereka sudah memiliki 28 kursi.

"Sekarang saya putuskan untuk ikut Teman Ahok. Saya tidak mau anak muda ini kecewa. Sekali pun ada kemungkinan PDIP marah, tahu-tahu anak-anak ini tidak bisa mengumpulkan (KTP), terus ada oknum KPUD tidak profesional, dia batalkan dukungan semua, karena potensi batal ini gampang banget. Jadi risikonya di saya," katanya.