INDO Ekspres, Jakarta - Ketua Komite Ad Hoc Agum Gumelar tengah menunggu panggilan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo 24 jam ke depan. Keduanya akan membahas soal pencabutan SK Pembekuan PSSI oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
"Hari ini saya tunggu panggilan dari Presiden. Kabarnya seperti itu, pembekuan PSSI akan dicabut," ujar Agum usai rapat dengan Komisi X Dewan Perwakilan Daerah (DPR), Senin (22/2/2016).
Dalam rapat dengan Komisi X, Agum menjelaskan soal situasi sepak bola Tanah Air pascaembekuan dari Kemenpora yang mengakibatkan Indonesia disanksi FIFA. Hukuman tersebut membuat Indonesia absen dari sepak bola internasional.
Karena sanksi tersebut, Indonesia tidak bisa mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2018, kualifikasi Piala Asia 2015, Piala AFC 2015 hingga program-program pengembangan kepelatihan dan wasit. Tidak hanya itu saja, kompetisi reguler sepak bola Indonesia, ISL terhenti.
Bahkan, konflik antara Kemenpora dengan PSSI yang berkepanjangan bisa mengancam Asian Games 2018 tanpa cabang sepak bola Indonesia.
"Saya mohon kepada pemerintah, kita hidup terikat dengan aturan internasional, termasuk sepak bola. Dalam masalah ini, tidak ada yang kalah atau menang, mari kita benahi bersama-sama," ucap Agum.
Soal kemungkinan cabor sepak bola di Asian Games ternyata mendapat banyak sorotan dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Haris. Dia mengkhawatirkan tanpa adanya sepak bola, ajang Asian Games Indonesia sulit mendapat sponsor.
"Ini kan ajang besar, kalau tidak ada sepak bola, pasti akan kesulitan mencari sponsor," katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Jefri Riwu Kore mengatakan, Menpora Imam Nahrawi sengaja melakukan pembekuan kepada PSSI tanpa memberikan kesempatan bagi La Nyalla Mattalitti menjalankan federasi sepak bola di Indonesia. (L6)
"Hari ini saya tunggu panggilan dari Presiden. Kabarnya seperti itu, pembekuan PSSI akan dicabut," ujar Agum usai rapat dengan Komisi X Dewan Perwakilan Daerah (DPR), Senin (22/2/2016).
Dalam rapat dengan Komisi X, Agum menjelaskan soal situasi sepak bola Tanah Air pascaembekuan dari Kemenpora yang mengakibatkan Indonesia disanksi FIFA. Hukuman tersebut membuat Indonesia absen dari sepak bola internasional.
Karena sanksi tersebut, Indonesia tidak bisa mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2018, kualifikasi Piala Asia 2015, Piala AFC 2015 hingga program-program pengembangan kepelatihan dan wasit. Tidak hanya itu saja, kompetisi reguler sepak bola Indonesia, ISL terhenti.
Bahkan, konflik antara Kemenpora dengan PSSI yang berkepanjangan bisa mengancam Asian Games 2018 tanpa cabang sepak bola Indonesia.
"Saya mohon kepada pemerintah, kita hidup terikat dengan aturan internasional, termasuk sepak bola. Dalam masalah ini, tidak ada yang kalah atau menang, mari kita benahi bersama-sama," ucap Agum.
Soal kemungkinan cabor sepak bola di Asian Games ternyata mendapat banyak sorotan dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Haris. Dia mengkhawatirkan tanpa adanya sepak bola, ajang Asian Games Indonesia sulit mendapat sponsor.
"Ini kan ajang besar, kalau tidak ada sepak bola, pasti akan kesulitan mencari sponsor," katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Jefri Riwu Kore mengatakan, Menpora Imam Nahrawi sengaja melakukan pembekuan kepada PSSI tanpa memberikan kesempatan bagi La Nyalla Mattalitti menjalankan federasi sepak bola di Indonesia. (L6)
