INDO Ekspres, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama menyebutkan pembangunan jalan flyover simpang susun Semanggi, bisa mengurangi 50 persen kemacetan Ibu Kota.
Hal tersebut disampaikan Basuki usai melakukan groundbreaking pembangunan jalan flyover simpang susun Semanggi, Jumat (8/4).
"Jadi minimal orang dari bandara tidak stuck lagi sampai Grogol. Dulu kan berputarnya dari kecil, besar ke kecil. Kalau ini (flyover simpang susun) betul-betul prinsip lalu lintas kan flow-nya alirannya sama, jadi kalau kamu 3 ya 3 terus," katanya.
Ia sangat mengapresiasi pembangunan flyover ini mengingat konstruksinya menggunakan precast. Ia mengatakan, dalam membangun sebuah konstruksi jika menggunakan desain perencanaan kerap membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa realisasinya.
"Kami sudah ciptakan di DKI jadi provinsi pertama yang gunakan rancang bangun. Jadi DKI sudah memulai sebuah cara yang baru, baik itu jalan, sekolah, rusun, rumah sakit jembatan, kami lebih mengarah rancang bangun," katanya.
Ia mengatakan, biasanya untuk membangun infrastruktur DKI kerap melakukan lelang konsultan terlebih dahulu untuk membuat Detail Engineering Design (DED). Untuk melaksanakan itu saja, dibutuhkan waktu 1-2 tahun.
"Kalau sekarang dimana sudah ada pengembang yang berani minta penambahan KLB terutama yang lewat jalur-jalur transportasi massal seperti berbasis rel, seperti MRT, LRT, atau kereta api. Maka mereka boleh menaikkan mereka maksimum 14 KLB," katanya.
Dengan demikian, katanya, saat mereka meminta kenaikan harus membayar. Namun untuk pembangunan jalan ini pembayaran tidak dilakukan dalam bentuk uang, melainkan pembangunan infrastruktur.
Pembangunan flyover tersebut dilakukan anak perusahaan swasta asal Jepang, Mori Company, yakni PT Mitra Panca Persada kepada Pemprov DKI karena mereka ingin menaikkan Koefisien Lantai Bangun (KLB) dalam pembangunan gedung yang sedang mereka bangun. Tidak hanya jalan, DKI juga meminta mereka membangunkan fasilitas sekitarnya seperti penerangan jalan. (bst)
